Monday, April 23rd 2007
To day is Monday, time to face the reality. Kadang rasanya libur dua hari tuh kurang. Maunya ditambah sehari… well, mungkin dua hari lagi. Itu berarti masuk kerja cuma tiga hari. Asik banget ya? Tapi… gue nggak boleh berpikir seperti itu. Yang harus gue lakukan setiap hari senin tiba adalah membuang semua kemalasan gue, bangun pagi-pagi dan mempersiapkan diri secantik mungkin supaya bisa berangkat menuju kantor dengan penuh semangat.
Oke. Waktu bangun pagi sih rencananya mau berangkat lebih cepet menghindari macet yang biasanya semakin siang semakin menjadi. Tapi entah kenapa, kenyataannya gue tetep aja siap jam setengah delapan dan berangkat jam delapan kurang lima belas menit. Mungkin kelamaan dandan, kelamaan makan, kelamaan mandi, or… emang semuanya kelamaan? Whatever lah… yang penting semangat gue untuk menghadapi hari senin ini belum luntur.
Naik angkot 15A… jalanan macet. Well, itu adalah satu hal yang wajar kan di Jakarta? Tiap hari juga begitu. Lagipula macetnya nggak parah-parah amat. Pasti bisa sampai UKI sesuai perkiraan. Dan benar, gue sampai di UKI – tempat gue naik bis menuju kantor gue di daerah Gatot Subroto – jam setengah sembilan. Wajar, nggak telat. Gue masih bisa menyebrang jalan setengah berlari, saking semangatnya.
Tapi… kok hari ini Jakarta panas banget sih? Udah gitu, di tempat gue nunggu bis nggak ada tempat berteduh sama sekali. Dan… kenapa pula bis yang mau gue naikin nggak muncul-muncul juga? Lima menit berlalu… sepuluh menit… lima belas menit… gila ya! Ini bis mogok apa gimana? Gue mulai panik. Lima menit di Jakarta tuh berarti banget! Membuang lima belas menit sambil berdiri nunggu bis yang nggak muncul-muncul juga, kepanasan, keringetan, kaki mulai pegel-pegel, bener-bener kurang kerjaan! Semangat gue mulai luntur. Muka gue mulai kusut.
Akhirnya, setelah naik angkot sebentar ke arah Cawang dan nunggu bis disitu, gue menemukan bis yang gue tunggu-tunggu. Tapi gue harus berlari-lari karena itu bis nggak mau berhenti di depan gue (kebetulan ada sederetan pak polisi disitu). Hup! Dengan sigap gue berhasil naik ke dalam bis yang… oh God… penuh banget! Gue terpaksa berdiri berhimpitan sama banyak orang. Uh… sial banget gue hari ini.
Sampai di depan kantor (sepanjang perjalanan dari Cawang sampe kantor berdiri terus, nggak ada yang mau ngasih tempat duduk, hiks!), gue berjalan tergesa-gesa menyeberangi jembatan penyeberangan. Jakarta masih tetap panas. Gue berusaha untuk tersenyum, mengatur nafas supaya nggak kelihatan ngos-ngosan, menegakkan punggung supaya lebih pe-de. Gue masuk gedung kantor gue seolah abis turun dari mobil ber-AC. Tapi begitu gue masuk lift… semangat gue luntur lagi. Gue melihat bayangan diri gue sendiri di dinding lift yang menyerupai cermin. Gue melihat bayangan seorang cewek dengan rambut berantakan, mata kuyu, bedak yang udah luntur, dan kemeja gue kusut… padahal tadi pagi gue udah bela-belain menyetrika ulang kemeja itu biar kelihata rapi. Gue tampak menyedihkan.
Damn! I hate Monday!
Thursday, April 26, 2007
I LOVE MY COUNTRY
Gue baru aja baca tulisan bagus hasil karya Putu Wijaya di sebuah majalah. Tentang mengapa kita masih mencintai bangsa ini? Kalau kita ingat, dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, bangsa kita sudah dihujani bencana bertubi-tubi. Belum lama terjadi tsunami yang memporak-porandakan Aceh dan Sumatera Utara, gempa bumi di Yogya dan sekitarnya, lumpur LAPINDO, kebakaran hutan di Kalimantan, ledakkan bom dimana-mana, dan kecelakaan transportasi baik darat, laut, maupun udara. Kejadian demi kejadian itu membuat gue dan banyak orang di negara ini merasa miris dan bertanya-tanya, Ada apa sih dengan bangsa gue? Terus, beberapa orang mulai sibuk mencaci maki pemerintahan, beberapa orang mengutuk bangsanya sendiri, beberapa orang menuding golongan tertentu, then, we live in hate, anger, and fear.
Gue coba membandingkan dengan negeri luar. Well, berhubung gue baru sekali ke luar negri dan negri itu adalah Singapore, jadi gue cuma bisa membandingkannya dengan Singapore. Tapi gue juga nggak bisa membandingkan Singapore dengan seluruh Indonesia karena nggak adil. Indonesia berkali-kali lipat lebih besar daripada Singapore, baik dari segi luas maupun jumlah penduduk. Nggak gampang mengatur sebuah Negara besar. Jadi, gue cuma akan membandingkannya dengan my beloved city, Jakarta.
Perbedaan antara Singapore dan Jakarta sudah gue rasakan begitu gue sampai di Changi airport. Changi adalah salah satu airport terbaik di seluruh dunia. Megah, luas, bersih, nyaman dan penjagaannya ketat. Soekarno Hatta – bocor, kotor, penjaganya lengah, dan nggak ada trolley untuk membawa barang-barang kita karena trolley-nya sudah dikuasai sama calo.
Outside the airport: udara Singapore bersih. Meskipun saat itu cuaca cukup terik, tapi gue nggak merasa kegerahan karena anginnya sejuk. Jalanan juga bersih karena jarak penempatan satu tempat sampah dengan tempat sampah berikutnya cukup dekat. Trotoar lebar-lebar membuat orang-orang nyaman berjalan kaki selama berjam-jam. Traffic jam hanya terjadi di tempat-tempat tertentu dan itupun nggak memakan waktu sampai dua jam. Alat-alat transportasi umum nyaman dan berhenti di tempat semestinya, begitu pula dengan pejalan kaki. Mereka tertib menyeberang di zebra cross dan menuruti perintah traffic light. Berkeliaran jam dua belas malam santai aja. Everyone does it.
Jakarta – polusi udara? Don’t ask. Di Jakarta banyak bis yang bisa mengeluarkan tinta seperti cumi-cumi. Mau buang sampah? Sok atuh… dimana aja boleh. Sampah berserakan biar jadi pekerjaan tukang sapu. Trotoar? Ada sih di beberapa tempat. Tapi sudah dikuasai pedagang kaki lima atau buat lewat motor yang mau menghindari macet. Di tempat lain justru nggak ada trotoar sama sekali. Para pejalan kaki sengsara karena harus jalan melipir takut keserempet mobil. Traffic jam? Kalau Jakarta nggak macet rasanya ada yang kurang, sama seperti orang Indonesia makan nggak pake nasi. Naik kendaraan umum? Mau pergi ke Kp. Rambutan bisa tiba-tiba turun di Cawang, naik metro mini A bisa tiba-tiba pindah ke metro mini B karena sopir metro mini A mau putar balik dan metro mini B kebetulan masih kosong. Belum lagi ancaman copet, rampok, tukang todong, atau tawuran anak SMA. Jalan-jalan jam dua belas malam di Jakarta? Sebaiknya lo punya teman preman atau belajar silat dulu sama Si Pitung.
Kepedihan yang lebih dalam gue rasakan begitu gue akan pulang dari Sigapore ke Jakarta. Diberitakan bahwa Jakarta sudah berubah jadi underwaterworld. Banjir dimana-mana dan tingginya nggak main-main. Akses transportasi dari dan ke bandara Soekarno Hatta putus karena jalan tol arah bandara terendam banjir. Gimana gue bisa pulang?
Tapi, rumah gue di Jakarta. Rumah gue ada di suatu tempat dimana gue harus melalui banjir itu. And I can’t wait to see my family, I want to sleep on my own bed. Jakarta is my hometown, the place where I belong. The place called home. And nothing can stop me from going home.
Apa yang terjadi di Negara kita bukan peran satu atau dua orang, maupun satu atau dua pihak. Bukan cuma salah pemerintah atau orang-orang besar, bukan juga hanya kesalahan rakyat kecil. Semua saling berhubungan. Kata Putu Wijaya dalam tulisannya, “Alasan mengapa kita harus mencintai negeri ini, paling tidak karena kita sudah tidak mencintainya selama ini.” Yap, selama ini gue cuma bisa hidup dengan kebencian, kemarahan, dan perasaan takut. Indonesia adalah rumah gue, gue nggak mungkin benci, marah, dan takut dengan rumah gue sendiri. Dimulai dari diri sendiri. Kalau semua orang punya pemikiran yang sama, dan punya perasaan memiliki serta mencintai negri kita ini, gue yakin, Indonesia bisa berkembang lebih pesat dan bisa menjadi sebuah negara yang membuat warganya merasa bangga.
Anyway, Indonesia is a beautiful city, right?
Gue coba membandingkan dengan negeri luar. Well, berhubung gue baru sekali ke luar negri dan negri itu adalah Singapore, jadi gue cuma bisa membandingkannya dengan Singapore. Tapi gue juga nggak bisa membandingkan Singapore dengan seluruh Indonesia karena nggak adil. Indonesia berkali-kali lipat lebih besar daripada Singapore, baik dari segi luas maupun jumlah penduduk. Nggak gampang mengatur sebuah Negara besar. Jadi, gue cuma akan membandingkannya dengan my beloved city, Jakarta.
Perbedaan antara Singapore dan Jakarta sudah gue rasakan begitu gue sampai di Changi airport. Changi adalah salah satu airport terbaik di seluruh dunia. Megah, luas, bersih, nyaman dan penjagaannya ketat. Soekarno Hatta – bocor, kotor, penjaganya lengah, dan nggak ada trolley untuk membawa barang-barang kita karena trolley-nya sudah dikuasai sama calo.
Outside the airport: udara Singapore bersih. Meskipun saat itu cuaca cukup terik, tapi gue nggak merasa kegerahan karena anginnya sejuk. Jalanan juga bersih karena jarak penempatan satu tempat sampah dengan tempat sampah berikutnya cukup dekat. Trotoar lebar-lebar membuat orang-orang nyaman berjalan kaki selama berjam-jam. Traffic jam hanya terjadi di tempat-tempat tertentu dan itupun nggak memakan waktu sampai dua jam. Alat-alat transportasi umum nyaman dan berhenti di tempat semestinya, begitu pula dengan pejalan kaki. Mereka tertib menyeberang di zebra cross dan menuruti perintah traffic light. Berkeliaran jam dua belas malam santai aja. Everyone does it.
Jakarta – polusi udara? Don’t ask. Di Jakarta banyak bis yang bisa mengeluarkan tinta seperti cumi-cumi. Mau buang sampah? Sok atuh… dimana aja boleh. Sampah berserakan biar jadi pekerjaan tukang sapu. Trotoar? Ada sih di beberapa tempat. Tapi sudah dikuasai pedagang kaki lima atau buat lewat motor yang mau menghindari macet. Di tempat lain justru nggak ada trotoar sama sekali. Para pejalan kaki sengsara karena harus jalan melipir takut keserempet mobil. Traffic jam? Kalau Jakarta nggak macet rasanya ada yang kurang, sama seperti orang Indonesia makan nggak pake nasi. Naik kendaraan umum? Mau pergi ke Kp. Rambutan bisa tiba-tiba turun di Cawang, naik metro mini A bisa tiba-tiba pindah ke metro mini B karena sopir metro mini A mau putar balik dan metro mini B kebetulan masih kosong. Belum lagi ancaman copet, rampok, tukang todong, atau tawuran anak SMA. Jalan-jalan jam dua belas malam di Jakarta? Sebaiknya lo punya teman preman atau belajar silat dulu sama Si Pitung.
Kepedihan yang lebih dalam gue rasakan begitu gue akan pulang dari Sigapore ke Jakarta. Diberitakan bahwa Jakarta sudah berubah jadi underwaterworld. Banjir dimana-mana dan tingginya nggak main-main. Akses transportasi dari dan ke bandara Soekarno Hatta putus karena jalan tol arah bandara terendam banjir. Gimana gue bisa pulang?
Tapi, rumah gue di Jakarta. Rumah gue ada di suatu tempat dimana gue harus melalui banjir itu. And I can’t wait to see my family, I want to sleep on my own bed. Jakarta is my hometown, the place where I belong. The place called home. And nothing can stop me from going home.
Apa yang terjadi di Negara kita bukan peran satu atau dua orang, maupun satu atau dua pihak. Bukan cuma salah pemerintah atau orang-orang besar, bukan juga hanya kesalahan rakyat kecil. Semua saling berhubungan. Kata Putu Wijaya dalam tulisannya, “Alasan mengapa kita harus mencintai negeri ini, paling tidak karena kita sudah tidak mencintainya selama ini.” Yap, selama ini gue cuma bisa hidup dengan kebencian, kemarahan, dan perasaan takut. Indonesia adalah rumah gue, gue nggak mungkin benci, marah, dan takut dengan rumah gue sendiri. Dimulai dari diri sendiri. Kalau semua orang punya pemikiran yang sama, dan punya perasaan memiliki serta mencintai negri kita ini, gue yakin, Indonesia bisa berkembang lebih pesat dan bisa menjadi sebuah negara yang membuat warganya merasa bangga.
Anyway, Indonesia is a beautiful city, right?
Friday, March 30, 2007
THE UNFORGIVEN PLAYBOY
Available now at bookstores : THE UNFORGIVEN PLAYBOY
Gimana rasanya ya kalo di tengah hari yg normal and biasa-biasa aja, tiba-tiba lo ketemu sama seorang peramal yg memvonis hidup lo cuma tinggal sebulan lagi?
Kejadian itu yg dialamin si Rico, playboy ganteng yang sanggup bikin hati banyak cewek klepek-klepek. Yang kerjaannya tebar pesona sama cewek-cewek tapi setelah tuh cewek takluk, maen tinggal gitu aja. Pokoknya sebagai seorang umat manusia, si Rico nih cukup punya banyak dosa.
Makanya Rico ketakutan setengah mati waktu seorang peramal bernama Madame Yusa, memvonis umurnya cuma tinggal 1 bulan. Rico kapoookkk. Dia pengen minta maaf sama semua orang yang pernah ia sakiti sebelum waktunya habis. Tapi, apa iya semua orang mau maafin Rico begitu aja? Kira-kira berhasil nggak ya dia?
Mau tau jawabannya? Baca aja bukunya yaaa…
Gimana rasanya ya kalo di tengah hari yg normal and biasa-biasa aja, tiba-tiba lo ketemu sama seorang peramal yg memvonis hidup lo cuma tinggal sebulan lagi?
Kejadian itu yg dialamin si Rico, playboy ganteng yang sanggup bikin hati banyak cewek klepek-klepek. Yang kerjaannya tebar pesona sama cewek-cewek tapi setelah tuh cewek takluk, maen tinggal gitu aja. Pokoknya sebagai seorang umat manusia, si Rico nih cukup punya banyak dosa.
Makanya Rico ketakutan setengah mati waktu seorang peramal bernama Madame Yusa, memvonis umurnya cuma tinggal 1 bulan. Rico kapoookkk. Dia pengen minta maaf sama semua orang yang pernah ia sakiti sebelum waktunya habis. Tapi, apa iya semua orang mau maafin Rico begitu aja? Kira-kira berhasil nggak ya dia?
Mau tau jawabannya? Baca aja bukunya yaaa…
Thursday, March 29, 2007
TRAVEL-HOLIC
Akhir-akhir ini, lebih tepatnya satu tahun belakangan, gue jadi addict sama traveling. Meskipun gak sampai sebulan sekali, at least dalam waktu setahun ini gue udah mengalami kemajuan pesat dalam hal traveling experience. Well, bilang gue norak, bolehlah. Tapi emang semua itu terjadi pas gue menginjak umur 25 tahun. Old enough, or maybe too old untuk merasakan yang namanya pertama kali naik pesawat, pertama kali ke Bandung, ke Bali, dan keluar negri. He he… kasian banget ya gue? Umur udah seperempat abad tapi baru ngalamin hal-hal itu.
Dulu, jamannya sekolah dan kuliah, gue jarang banget keluar kota. Paling-paling bareng keluarga ke Purwokerto, Salatiga, Semarang, atau Solo. Itupun cuma kalau ada momen-momen penting, such as Lebaran, ada sodara nikahan, atau nengokin kakak gue yang emang tinggal di Solo. Sekalinya jalan sama temen adalah pas kuliah. Gue dan dua orang temen satu tim gue jalan ke Yogya dan Solo untuk kepentingan riset tentang batik karena waktu itu tim gue memilih batik sebagai tema tugas akhir. Tapi sebenarnya sih tujuan utama gue dan temen-temen gue itu adalah jalan-jalan, hi hi. Oh ya, ada satu daerah lagi yang pernah gue kunjungi, yaitu Dieng. Gue ke tempat itu bareng rombongan sekolah gue waktu SD. Lumayan lah, jarang-jarang kan ada yang pergi ke situ? Padahal Dieng tuh bagus banget lohhh…
Oke, back to the topic. Jadi selama ini gue jarang traveling karena ada beberapa faktor. Pertama dan yang paling penting adalah masalah budget. Sampai kuliah kan gue masih nodong or-tu, dana dari or-tu cuma cukup buat ongkos sekolah dan jajan, jadi gak heran kalau gue cuma bisa pergi keluar kota bareng mereka. Kedua, entah kenapa angkatan gue waktu SMP dan SMA adalah angkatan apes, atau emang sekolah gue jarang ngadain acara karya wisata ya? Jadi selama enam tahun di SMP dan SMA, gak pernah satu kalipun sekolah gue ngadain acara jalan-jalan. Oke, pas SMP pernah sih, tapi jalan-jalannya cuma ke Sea World, Monumen Pancasila Sakti, dan sebangsanya. Oh, mungkin itu termasuk tamasya keluar kota juga ya, mengingat dulu gue sekolah di Depok, he he. Dan yang lebih parah lagi waktu SMA. Bener-bener ga ada acara jalan-jalan. Boro-boro, acara perpisahan gue pas kelas tiga aja diadain di lapangan sekolah! Again, kasian ya gueee…?
Trus…, karena faktor pertama itu tadi, gue jadi bawaannya males pergi-pergi keluar kota. Banyak yang harus dipikirin, planning-nya harus dibikin secermat mungkin. Gue juga gak punya keberanian untuk jalan sendiri, harus ada temen. Takut nyasar, takut dijahatin orang, dan takut-takut yang lain. Tapi… setelah gue kerja dan punya duit sendiri, semua itu berubah. In fact, setiap abis pulang dari jalan-jalan, rasanya gak puas dan pengen jalan lagi. Entah ke tempat yang sama atau beda. Pokoknya jalan! And it’s become an addict.
Pertama kali gue ke Bandung (hey, I’m not ashamed to admit it) adalah di awal April 2006, sekalian ngerayain ulang tahun gue yang ke 25. Trus, pada suatu long weekend di tahun yang sama, gue ngambil cuti dan berencana pergi ke Solo, tempat kakak gue. Alone, by train. Tapi karena keabisan tiket kereta, rencana gue itu batal. Pas banget di hari itu terjadi gempa besar-besaran di Yogyakarta, Solo dan sekitarnya. Thank God. Eh.., dasar rejeki nggak kemana. Pas gue masuk kantor di hari berikutnya, bos gue meminta gue untuk ikut rombongan klien gue tour ke Bali. Gratis, bo.. My first time to Bali, also my first time on a plane (I’m still not ashamed to admit it). Dan di bulan Februari lalu, gue dapet kesempatan untuk jalan-jalan ke Singapore. Pertama kali keluar negri, kedua kalinya naik pesawat, dan akhirnya… gue punya paspor juga.
Gara-gara itu, sekarang setiap ada temen gue yang mo jalan keluar kota, bawaannya pengen ikut. Meskipun pas akhir bulan gue terpaksa sibuk ngutang sana-ngutang sini buat menyambung hidup sampai gajian tiba. He he.. soalnya kalo dah jalan nggak mungkin nggak ngabis-ngabisin duit. Finally, beberapa hari yang lalu gue ke Bandung lagi. Deket, murah meriah, bikin ketagihan. Dan gue dapet rain coat keren banget disitu!
Jadi kalo orang yang ketagihan alcohol dibilang alcoholic, ketagihan kerja dibilang workaholic, ketagihan shopping dibilang shoppaholic, mungkin gue bisa dibilang… travelholic! Haa… whatever it calls, pokoknya gue gak sabar pengen jalan lagi!
Dulu, jamannya sekolah dan kuliah, gue jarang banget keluar kota. Paling-paling bareng keluarga ke Purwokerto, Salatiga, Semarang, atau Solo. Itupun cuma kalau ada momen-momen penting, such as Lebaran, ada sodara nikahan, atau nengokin kakak gue yang emang tinggal di Solo. Sekalinya jalan sama temen adalah pas kuliah. Gue dan dua orang temen satu tim gue jalan ke Yogya dan Solo untuk kepentingan riset tentang batik karena waktu itu tim gue memilih batik sebagai tema tugas akhir. Tapi sebenarnya sih tujuan utama gue dan temen-temen gue itu adalah jalan-jalan, hi hi. Oh ya, ada satu daerah lagi yang pernah gue kunjungi, yaitu Dieng. Gue ke tempat itu bareng rombongan sekolah gue waktu SD. Lumayan lah, jarang-jarang kan ada yang pergi ke situ? Padahal Dieng tuh bagus banget lohhh…
Oke, back to the topic. Jadi selama ini gue jarang traveling karena ada beberapa faktor. Pertama dan yang paling penting adalah masalah budget. Sampai kuliah kan gue masih nodong or-tu, dana dari or-tu cuma cukup buat ongkos sekolah dan jajan, jadi gak heran kalau gue cuma bisa pergi keluar kota bareng mereka. Kedua, entah kenapa angkatan gue waktu SMP dan SMA adalah angkatan apes, atau emang sekolah gue jarang ngadain acara karya wisata ya? Jadi selama enam tahun di SMP dan SMA, gak pernah satu kalipun sekolah gue ngadain acara jalan-jalan. Oke, pas SMP pernah sih, tapi jalan-jalannya cuma ke Sea World, Monumen Pancasila Sakti, dan sebangsanya. Oh, mungkin itu termasuk tamasya keluar kota juga ya, mengingat dulu gue sekolah di Depok, he he. Dan yang lebih parah lagi waktu SMA. Bener-bener ga ada acara jalan-jalan. Boro-boro, acara perpisahan gue pas kelas tiga aja diadain di lapangan sekolah! Again, kasian ya gueee…?
Trus…, karena faktor pertama itu tadi, gue jadi bawaannya males pergi-pergi keluar kota. Banyak yang harus dipikirin, planning-nya harus dibikin secermat mungkin. Gue juga gak punya keberanian untuk jalan sendiri, harus ada temen. Takut nyasar, takut dijahatin orang, dan takut-takut yang lain. Tapi… setelah gue kerja dan punya duit sendiri, semua itu berubah. In fact, setiap abis pulang dari jalan-jalan, rasanya gak puas dan pengen jalan lagi. Entah ke tempat yang sama atau beda. Pokoknya jalan! And it’s become an addict.
Pertama kali gue ke Bandung (hey, I’m not ashamed to admit it) adalah di awal April 2006, sekalian ngerayain ulang tahun gue yang ke 25. Trus, pada suatu long weekend di tahun yang sama, gue ngambil cuti dan berencana pergi ke Solo, tempat kakak gue. Alone, by train. Tapi karena keabisan tiket kereta, rencana gue itu batal. Pas banget di hari itu terjadi gempa besar-besaran di Yogyakarta, Solo dan sekitarnya. Thank God. Eh.., dasar rejeki nggak kemana. Pas gue masuk kantor di hari berikutnya, bos gue meminta gue untuk ikut rombongan klien gue tour ke Bali. Gratis, bo.. My first time to Bali, also my first time on a plane (I’m still not ashamed to admit it). Dan di bulan Februari lalu, gue dapet kesempatan untuk jalan-jalan ke Singapore. Pertama kali keluar negri, kedua kalinya naik pesawat, dan akhirnya… gue punya paspor juga.
Gara-gara itu, sekarang setiap ada temen gue yang mo jalan keluar kota, bawaannya pengen ikut. Meskipun pas akhir bulan gue terpaksa sibuk ngutang sana-ngutang sini buat menyambung hidup sampai gajian tiba. He he.. soalnya kalo dah jalan nggak mungkin nggak ngabis-ngabisin duit. Finally, beberapa hari yang lalu gue ke Bandung lagi. Deket, murah meriah, bikin ketagihan. Dan gue dapet rain coat keren banget disitu!
Jadi kalo orang yang ketagihan alcohol dibilang alcoholic, ketagihan kerja dibilang workaholic, ketagihan shopping dibilang shoppaholic, mungkin gue bisa dibilang… travelholic! Haa… whatever it calls, pokoknya gue gak sabar pengen jalan lagi!
Wednesday, March 28, 2007
CATATAN MANUSIA JAKARTA
Pagi ini, aku melihat seorang lelaki tua dengan wajah kisut-kisut keriput di pinggir jalan yang ramai dan macet luar biasa. Di bawah teriknya mentari pagi ia mengenakan selembar karton yang melapisi pakaian hijau-kuningnya. Karton itu bertuliskan sebuah brand obat sakit kepala yang baru keluar di pasaran. Dengan karton berukuran besar yang kelihatan amat menyulitkan geraknya, lelaki tua itu menjajakan sachet demi sachet obat sakit kepala itu kepada kendaraan yang berlalu lalang.
Lalu aku teringat pada seorang wanita. Wanita separuh baya yang menjajakan sebuah produk minuman keliling kota, dari rumah ke rumah berjalan kaki sambil menarik kereta yang berisikan botol minuman tersebut. Dengan kostum kemeja berlengan panjang, celana panjang hijau dan sepatu kets, ia berjuang tanpa kenal lelah. Terik mentari dan kaki pegal tak jadi soal. Berharap setidaknya semua botol minuman di dalam kereta laku keras.
Teringat pula aku ketika aku sedang mengunjungi sebuah pameran pembangunan. Aku melihat orang itu, aku yakin ia seorang lelaki meski aku tak bisa melihat wajahnya. Ia mengenakan kostum badut yang membalut rapat tubuhnya. Ditelusurinya stand demi stand sambil menjajakan sebuah produk daging olahan. Tanpa gairah, dengan langkah ogah-ogahan, dan aku yakin di dalam kostum itu ia kepanasan.
Hal itu juga mengingatkanku pada tukang sampah. Para lelaki tua yang berpeluh mendorong gerobak sampah mereka yang bau, yang membuat semua orang ingin segera memalingkan muka, pergi menjauh sambil menutup hidung mereka.
Aku pun berpikir, betapa gigihnya mereka berjuang hanya demi untung yang tidak seberapa. Namun, dari untung yang menurutku tidak seberapa itulah mereka bisa memberi makan atau bahkan memasukkan ke sekolah anak-anak mereka. Lalu, mengapa ada sebagian orang yang memilih berprofesi sebagai tukang copet, tukang todong, atau pengemis? Mengapa pula ada orang-orang yang terlalu idealis, harga dirinya terlalu tinggi sehingga hanya menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan egonya dan akhirnya terjerat dalam status pengangguran?
Lalu mengapa ada aku? Seorang perempuan lajang tanpa beban yang bekerja di belakang meja, dengan fasilitas lengkap, di dalam ruangan sejuk ber-AC, tapi masih saja merasa serba kekurangan?
Wednesday, May 19, 2004
Lalu aku teringat pada seorang wanita. Wanita separuh baya yang menjajakan sebuah produk minuman keliling kota, dari rumah ke rumah berjalan kaki sambil menarik kereta yang berisikan botol minuman tersebut. Dengan kostum kemeja berlengan panjang, celana panjang hijau dan sepatu kets, ia berjuang tanpa kenal lelah. Terik mentari dan kaki pegal tak jadi soal. Berharap setidaknya semua botol minuman di dalam kereta laku keras.
Teringat pula aku ketika aku sedang mengunjungi sebuah pameran pembangunan. Aku melihat orang itu, aku yakin ia seorang lelaki meski aku tak bisa melihat wajahnya. Ia mengenakan kostum badut yang membalut rapat tubuhnya. Ditelusurinya stand demi stand sambil menjajakan sebuah produk daging olahan. Tanpa gairah, dengan langkah ogah-ogahan, dan aku yakin di dalam kostum itu ia kepanasan.
Hal itu juga mengingatkanku pada tukang sampah. Para lelaki tua yang berpeluh mendorong gerobak sampah mereka yang bau, yang membuat semua orang ingin segera memalingkan muka, pergi menjauh sambil menutup hidung mereka.
Aku pun berpikir, betapa gigihnya mereka berjuang hanya demi untung yang tidak seberapa. Namun, dari untung yang menurutku tidak seberapa itulah mereka bisa memberi makan atau bahkan memasukkan ke sekolah anak-anak mereka. Lalu, mengapa ada sebagian orang yang memilih berprofesi sebagai tukang copet, tukang todong, atau pengemis? Mengapa pula ada orang-orang yang terlalu idealis, harga dirinya terlalu tinggi sehingga hanya menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan egonya dan akhirnya terjerat dalam status pengangguran?
Lalu mengapa ada aku? Seorang perempuan lajang tanpa beban yang bekerja di belakang meja, dengan fasilitas lengkap, di dalam ruangan sejuk ber-AC, tapi masih saja merasa serba kekurangan?
Wednesday, May 19, 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)